“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Matius 5:3

Mat 5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Mat 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
Mat 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Bagian ini adalah bagian yang penting dalam kitab Injil. Bagian ini dijadikan pengajaran Yesus yang kuat dalam Injil Matius. Disana dikatakan bahwa ketika Yesus melihat orang banyak, maka ia naik ke sebuah bukit ( tempat yang lebih tinggi) untuk mengajar mereka.

Kalimat Tuhan Yesus ini di mulai dengan kata “berbahagia”

.

Kata Yunani Makarios “bahagia, diberkati”. Tetapi sering kebahagiaan itu hanya dikaitkan dengan perasaan tenang dan tenteram semata. Dalam arti yang lebih luas Makarios diartika dengan “terberkati, beruntung.

Yang menarik disini adalah Orang yang dikatakan bahagia atau terberkati itu memiliki kriteria-kriteria yang Yesus sebutkan. Kriteria yang Pertama adalah : “orang yang miskin dihadapan Allah”.

Kalimat ini terlihat kontradiksi, karena sering kali kemiskinan sering diidentikan dengan kesusahan dan penderitaan. Ketika dihubungkan dengan kebahagiaan, maka akan terlihat bertentangan. Mana mungkin orang miskin bahagia?

.

Pada masa PB rakyat Yahudi sangat dibebankan dengan bermacam-macam pajak dari pemerintah Romawi, ditambah lagi oleh ketamakan para pemungut cukai. Kemiskinan adalah hal yang tidak diinginkan, namun kemiskinan dialami mayoritas masyarakat Yahudi waktu itu. Namun demikian, Tuhan Yesus sedang tidak berbicara kemiskinan dalam bentuk materi.

.

Ada dua kata “miskin” dalam Perjanjian Baru Yunani yaitu : Penes dan ptokhos.
Penes berarti miskin sedemikian rupa sehingga penghasilan sehari habis buat makan sehari. Ia harus bekerja untuk bisa bertahan hidup, walaupun terseok-seok.
Sedangkan Ptokhos, berarti mereka yang hidup dari meminta sedekah (tidak punya apa-apa lagi sehingga harus mengemis/minta sedekah dari orang lain). Kata ini sejajar dengan Istilah dalam Bahasa Ibrani Ani/Eboni yang menggambarkan kemiskinan dengan 4 tahapan perkembangan :

1. Miskin.

2. Karena miskin maka tidak mempunyai pengaruh atau kuasa, atau penolong atau martabat.

3. Karena tidak mempunyai pengaruh maka menjadi nista, merana, papa dan ditindas oleh orang lain.

4. Akhirnya orang yang tidak mempunyai sumber harta apa-apa didunia ini meletakan nasib dan kepercayaannya kepada Allah sepenuhnya.

.

Kemiskinan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah Ptokhos, sehingga gambaran miskin disini adalah orang yang minta sedekah dari Tuhan. Artinya : Orang yang menyadari bahwa : kehidupanya semata-mata karena belas kasihan Allah, hidupnya bergantung dari belas kasihan Tuhan. Seperti orang yang meminta sedekah, kita-pun harus menyadari bahwa yang namanya “berkat/sedekah ” itu diberikan sesuai maunya yang memberi, sesuai kemauannya Tuhan.

.

Lebih lagi dalam Bahasa Inggris diterjemahkan poor in spirit ( miskin dalam roh). Artinya orang-orang yang secara sadar dan rendah hati membutuhkan Allah/ bergantung kepada Allah, dimanaTuhan menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi kita. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkannya: “Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja;”

Untuk orang-orang seperti ini, yaitu mereka yang merasa miskin dihadapan Allah/ miskin secara rohani ini : merekalah yang empunya kerajaan sorga. Sifat dan karakter seperti ini adalah ciri dari warga kerajaan Allah. Amin.

.

#Dr. Andries Yosua (Wakil Ketua III)