Kejadian 40:23 (TB)  Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.

Kejadian 41:1 (TB)  Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil.

 

Kejadian 41:3, 10-13 (TB)

Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Firaun: “Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu.
Waktu itu tuanku Firaun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti.
Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri.
Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing.

.

Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi: aku dikembalikan ke dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung.”

.

Yusuf adalah sebuah contoh dari sebuah kehidupan yg sangat patut kita teladani. Dia adalah seorang yg tidak menaruh dendam, seorang yg mempertahankan kesucian, pekerja keras dan berintegritas. Sebuah kehidupan yg luar biasa.

Ketika dia terpuruk dan jatuh kedasar sebuah kehidupan, yakni di penjara walau tidak bersalah. Dan penjara yg Yusuf alami adalah di penjara tanpa sebuah batasan waktu. Karena kesalahannya dianggap fatal. Secara manusia, seharus Yusuf sudah tidak memiliki pengharapan. Dia seharusnya stress dengan keadaannya itu. Mungkin kalau kita hanya membaca saja kisahnya, maka kita biasa2 saja menanggapinya.

.

Tetapi jika kita melihat secara dalam, dan bayangkan saja jika kita mengalaminya;

1. Di penjara bukan karena kesalahannya.

2. Tidak ada yg membela. Saudara atau teman pun tidak ada.

3. Di penjara tanpa batasan waktu. Kemungkinan sampai tua dan mati.

.

Keadaan ini pasti membuat kita sebagai manusia mulai menyalahkan Tuhan, menyalahkan saudara2nya yg telah membuat hal itu terjadi. Dia dijual menjadi budak, bekerja dirumah Potifar, di fitnah dan dimasukkan kepenjara. Bisa dikatakan sebuah nasib yg sangat tragis. Tapi apa pernah kita melihat ayat yg menuliskan tentang keluhan Yusuf. Ada dia marah kepada Tuhan, atau kepada saudara2nya?

.

Dalam Kejadian 45:4-5 (TB)  Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: “Marilah dekat-dekat.” Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.

Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.

Lihat dalam ayat tersebut, kita tidak menemukan dendam dan kemarahan di sana. Kita hanya melihat sebuah pikiran positif, sebuah ungkapan iman dari seorang Yusuf. Itulah yg ada dipikiran dia, selama dia di Mesir. Dan menganggap kesulitan dan penderitaan yg dia alami adalah sebuah cara Tuhan untuk membawanya kepada Rencana Besar Ilahi.

.

Selanjutnya, dalam ayat yg kita baca di atas, bahwa 2 tahun sang juru minuman raja, melupakan Yusuf. 2 tahun di penjara bukan waktu yg sebentar. Tetapi Yusuf boleh dilupakan oleh juru minuman, tetapi Allah tetap mengingat Yusuf.

Manusia melupakan kita, melupakan janjinya, melupakan kita sebagai temannya, melupakan kita sebagai saudara. Tapi ingat, jika kita tetap berjalan dalam rencana Allah, Dia tidak akan melupakan kita.

Yusuf terlupakan selama 2 tahun oleh juru minuman raja, tetapi Allah tetap mengingatnya.

Proses kehidupan apa yg sedang kita alami hari2 ini. Percayalah bahwa Allah tidak melupakan kita, Dia tetap ingat janji-Nya. Kita adalah biji Mata-Nya, kita adalah anak2-Nya, kita berharga di mata-Nya. Amin

.

#Ezra, M.Th (Dosen Tetap)