Mazmur 64:14 “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.”

Sesungguhnya Kejujuran ibarat obat yang pahit namun akan menyembuhkan penyakit, sebaliknya kebohongan ibarat madu yang mengandung racun, yang awalnya berasa manis namun pada akhirnya akan membunuh siapapun yang memakannya. Sahabatku, dalam teori memang hampir semua orang mengajarkan untuk hidup dalam kejujuran, namun ironisnya dalam banyak fakta yang kita temui, dunia justru cenderung menolak kejujuran. Ada orang yang tersingkir dari jabatannya dan memiliki banyak musuh justru karena ia memilih untuk tetap jujur. Ia tidak mau ikut-ikutan melakukan penggelembungan dana bersama pimpinan dan rekan-rekannya, dan akibatnya ia pun disingkirkan.

Pak Ahok atau BTP tokoh yang fenomenal dan terkenal akan integritas dan kejujurannya pada akhirnya harus menemukan kenyataan dirinya berada di balik jeruk. Betapa mahalnya harga kejujuran, begitu katanya, dan pikiran kita pun pun akan dipenuhi pertanyaan, “Apakah kejujuran sudah merupakan sebuah nilai yang tidak bermakna apa-apa lagi, yang malah bisa merugikan ketika dilakukan? Masih adakah orang yang menghargai kejujuran?”. Begitulah gambaran kenyataan yang kini semakin sering kita saksikan.

Mayoritas orang menganut prinsip terbalik, dengan berkata, “Kita musti cerdas dan lihay mengikuti arus agar bisa bertahan bahkan naik posisi dalam karir, berbohong, menutupi kebenaran atau ikut melakukan penyelewengan, merupakan bagian yang tak terhindarkan jika ingin sukses”. Pada akhirnya kita sampai pada titik di mana semakin lama kejujuran akan semakin menjadi barang langka dan “aneh” yang walaupun telah diajarkan dimana-mana tetapi pada kenyataannya semakin dipinggirkan. Ironisnya kadang ketidakjujuran justru kita mulai dari rumah atau keluarga, suami tidak jujur terhadap istri, sebaliknya istri tidak jujur terhadap suami, orang tua tidak jujur terhadap anak, lalu anak tidak lagi jujur terhadap orang tua., jika sudah demikian, maka kejujuran menjadi sebuah kemustahilan yang akan kita temui.

Di mata dunia mungkin seperti itu, tetapi ingatlah bahwa kejujuran yang sekecil apapun memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Tuhan. Alkitab mengajarkan pentingnya hidup dengan berlaku jujur dalam begitu banyak kesempatan. Upah yang disediakan Tuhan bagi orang jujur pun bukan main besarnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16).

Betapa tingginya nilai sebuah kejujuran di hadapan Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku jujur, seringkali dunia memang memperlakukan kita dengan tidak adil, tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang abadi semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Mazmur dikatakan: “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (Mazmur 64:11).

Pada saat ini mungkin kita rugi akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar. Anggaplah itu sebuah ujian ketika kita dipinggirkan akibat berlaku jujur dan menolak untuk ikut-ikutan berbuat curang. Seperti layaknya ujian, untuk menghadapinya memang bisa jadi berat. Tetapi lulus tidaknya kita dalam ujian akan sangat tergantung dari keseriusan dan ketekunan kita dalam menghadapinya, dan juga tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Mempertahankan kejujuran dalam hidup pun bisa demikian. Akan ada saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah disalahkan dan dirugikan. Meski berat, terimalah itu sebagai sebuah ujian, dan fokuskan pandangan jauh ke depan, kepada sebuah kehidupan abadi yang akan anda jalani kelak setelah fase di dunia ini selesai.

Yakobus pun berkata: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Ujian akan menumbuhkan ketekunan, dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang matang. Karakter kita akan disempurnakan lewat ujian-ujian itu.

Ujian adalah kesempatan bagi kita untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, dan karena itu seharusnya kita bisa berbahagia. Buat sesaat kecurangan mungkin bisa memberi banyak keuntungan, tetapi itu semua hanyalah sesaat dan fana. Untuk sebuah hidup yang abadi, kecurangan tidak akan pernah membawa keuntungan malah mendatangkan kerugian. Jangan lupa bahwa Tuhan sudah berkata bahwa Dia tidak akan menutup mata dari apapun yang kita lakukan dalam hidup kita. “Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya.” (Ayub 34:11). Baik atau tidak akan membawa ganjaran atau konsekuensinya sendiri. Baik atau tidak ganjaran yang kita terima akan tergantung dari bagaimana cara kita hidup. Meski kita mungkin harus menanggung konsekuensi berat akibat kejujuran kita, bertahanlah.

Firman Tuhan berpesan: “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:14). Ini termasuk pula komitmen kita untuk tetap mempertahankan kejujuran dan kesetiaan dengan tidak mengeluh terhadap konsekuensi apapun yang kita alami di dunia ini. Mengapa demikian? Sebab Firman Tuhan kemudian berkata: “supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (ay 15). Sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak dunia seharusnya membuat kita tampil beda. Kita tidak boleh ikut-ikutan arus sesat dari angkatan yang bengkok hatinya karena kita menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Dan percayalah bahwa kelak pada saat Kristus datang kembali, kita akan melihat bahwa perjuangan kita terhadap kejujuran tidak akan sia-sia. Muda atau tua, siapapun kita, peganglah prinsip kejujuran setinggi mungkin dan jangan gadaikan itu untuk alasan apapun.

Kepada Timotius Paulus berpesan: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Meskipun masih muda kita tetap dituntut untuk bisa menjadi teladan dalam segala hal. Kita hidup di dalam masyarakat yang mau menghalalkan segala cara, yang hidup dengan standar-standar ganda dan yang tidak selalu memberikan penghargaan yang tinggi atas penyampaian kebenaran dan kejujuran.

Seperti itulah dunia hari ini, tetapi bertahanlah dan pegang kuat prinsip-prinsip tersebut. Meski dunia berlaku seperti itu, tetapi adalah hal yang tidak bisa ditawar bahwa pengikut Kristus seharusnya memiliki standar kejujuran tinggi yang berbeda dari standar yang ditetapkan dunia. Apapun situasinya, tetaplah pertahankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya. Meski dunia menolak kejujuran, di mata Tuhan sekecil apapun itu akan sangat berharga.

Pengkhotbah 12:13-14, mengingatkan kita, ” Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

Tuhan memberkati.

Selamat pagi selamat menata hati dan meniti langkah menjalani hari ini.

Immanuel Haleluyah.

 

# Dr. Redikson Sidabalok (Ka. Prodi M.Th. STTPBB)