
Nats: Hakim- Hakim 7: 2-7
.
Pendahuluan
Dalam setiap Angkatan Bersenjata akan memiliki Tim Elit atau Pasukan Khusus yaitu Pasukan yang terpilih dari Angkatannya. Alkitab mencatat kisah penyaringan pasukan yang dipimpin oleh Gideon ketika hendak berperang melawan orang Midian. Dari 32.000 prajurit, Allah menyeleksi melalui dua tahap hingga terpilihlah 300 prajurit Pasukan Elit Gideon yang maju berperang melawan Midian.
Mari kita pelajari bagaimana 300 prajurit ini bisa terpilih menjadi pasukan khusus, sehingga gambaran ini yang kita dapat pelajari menjadi Pasukan Khusus/ Tim Elit Kerajaan Surga.
.
1. Hidup dalam Kerendahan Hati (ay.2)
”…, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.”
Untuk menjadi Tim Elit kita harus hidup dalam kerendahan hati. Kita harus menyadari bahwa segala berkat yang kita miliki, segala keberhasilan yang kita dapatkan itu semua karena anugerah Tuhan. Jangan sampai diantara kita menjadi sombong/ tinggi hati dengan semuanya itu dan menganggap bahwa semua itu karena hasil usaha kita sendiri semata-mata, namun sadarilah bahwa karena Tuhan memberkati kita sajalah maka kita menjadi berhasil.
.
2. Mengalahkan Ketakutan dan Kekuatiran (ay.3)
Ketakutan dan kekuatiran adalah senjata Iblis yang sangat ampuh ”melumpuhkan” kita sebagai pasukan Kerajaan Surga. Iblis akan berusaha menebarkan berbagai macam pikiran yang membuat kita tinggal dalam ketakutan. Ketakutan adalah suatu hukum, seperti hukum grafitasi, pasti jatuh ke bawah, demikian juga ketakutan pasti akan menjadikan kita lemah. Sebagai Pasukan Khusus/ Tim Elit Kerajaan Surga kita harus mampu berjalan dalam Iman dan percaya penuh kepada firman Tuhan sehingga kita mampu mengalahkan Ketakutan dan Kekuatiran.
.
3. Jangan Menjadi Orang yang Tamak (ay.5-6)
Kisah ini mencatat hanya pasukan yang membawa tangannya kemulut dan menjilat air untuk minum seperti anjing yang terpilih menjadi Pasukan Elit Gideon. Sebagian besar pasukan ini ketika mereka melihat air (berkat) mereka lupa akan tugas/ panggilan mereka, dengan berlutut (mungkin berendam) dalam air mereka menikamatinya.
.
Tuhan memberikan kita berkat untuk kita nikmati, namun jangan sampai kita terbuai/ terhanyut dalam berkat itu. Belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang apa pada kita dan bersyukur.
.
# Harianto Winata, M.A., M.Th. (Dosen Tetap)
