Nats: 1Korintus 1:18-31 

Pendahuluan

”Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (ay.18)

 

Secara kontradiksi Paulus menyatakan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan tentang salib adalah kekuatan Allah.  Mengapa disebut kebodohan???

Kalau kita memperhatikan ayat 22-23, Paulus menyatakan Orang Yahudi menghendaki tanda dan orang Yunani mencari hikmat.

Karya penyelamatan Allah bagi orang Yahudi tidak terlepas dengan peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dengan tanda-tanda/mujizat-mujizat yang ajaib yang Allah kerjakan di tengah-tengah mereka.  Sedangkan Paulus saat ini menyatakan sebuah karya penyelamatan dari Allah melalui cara yang menyedihkan, mati di kayu salib yang menjadi lambang kekalahan dan kelemahan, sebab itu untuk orang-orang Yahudi pemberitaan tentang salib adalah suatu batu sandungan.

Sedangkan orang-orang Yunani adalah orang-orang yang sangat bersemangat mempelajari sesuatu.  Mereka adalah pencinta Filosofia dan pakar Hikmat.  Oleh sebab itu bagi orang-orang Yunani, pemberitaan tentang salib adalah kebodohan

Namun kita bisa menarik sebuah kesimpulan berdasarkan ayat 18, penolakan akan pemberitan salib baik oleh orang-orang Yahudi, maupun orang-orang Yunani membuat mereka dalam kategori orang-orang yang akan binasa.

ISI

Alasan/ Dasar Pemberitaan tentang Salib adalah Kekuatan Allah.

  1.  Membuat Allah Berkenan Menyelamatkan Orang yang Percaya (ay.21)

”Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil”

Melalui ayat ini Paulus hendak menyatakan bahwa dunia tidak mengenal Allah melalui hikmat/pengertiannya sendiri.  Kata ”Dunia” (kosmos) yang menunjukan keseluruhan manusia dalam kejatuhan dan keberdosaaannya tidak dapat mengenal Allah.

Kata ”mengenal” (egno) yang berarti bukan sekedar mengenal secara kognitif tetapi secara empiris yang berarti mengalami dan memiliki persekutuan dengan Allah.  Sehingga keberadaan manusia yang berdosa, yang terpisah dan tidak memiliki persekutuan dengan Allah, tidak mungkin dapat mengenal Allah.

Namun oleh pemberitaan tentang salib membuat Allah berkenan menyelamatkan  mereka yang percaya.  Kata ”berkenan” (eudokesen) yang berarti memilih sesuai dengan kehendak hati-Nya.  Paulus ingin menyatakan bahwa subyek penyelamat kita adalah Allah sendiri dan pemilihan Allah ini tidak berdasarkan pada ukuran manusia (kelebihan/kebaikan) tetapi ukuran kasih karunia Allah sendiri

Tetapi sekalipun demikian, karya keselamatan dari Allah ini juga memerlukan respon dari orang yang dipilih.  Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya.  Percaya di sini bukan sekedar memberi persetujuan tetapi melabuhkan segenap harapan, keyakinan dan kepercayaan akan karya penyelamatan Allah melalui salib Kristus sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan.

 

  1.  Hikmat Manusia Terpandai Sekalipun Tidak Dapat Menyelamatkan (ay.25)

”Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia”

Yang dimaksud dengan yang bodoh dari Allah dan yang lemah dari Allah adalah Berita tentang Salib.  Pemberitaan tentang salib adalah kebodohan dan kelemahan bagi hikmat dunia.  Tetapi Hikmat orang yang terpandai sekalipun tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi orang lain dari penghukuman kekal.  Namun sebaliknya berita salib yang dianggap kebodohan dan kelemahan menurut hikmat dunia justru dapat menyelamatkan mereka yang percaya.

”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” (ay.30)Pada ayat ini Paulus ingin mengkontraskan ayat sebelumnya yaitu tentang hikmat manusia yang tidak berguna, yang tidak dapat menyelamatkan dan sebaliknya Paulus menegaskan bahwa Kristuslah yang menjadi Hikmat Allah bagi kita yang membenarkan, menguduskan dan menebus orang percaya.  Sehingga kebodohan pemberitaan tentang salib menjadi jalan keselamatan mereka yang percaya.

 

  1.  Status, Jabatan dan Kekayaan Kita Tidak Dapat Menyelamatkan (ay.27-28)

”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti”

Paulus menyatakan ”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang berhikmat…”  kata memalukan (kataischuno) yang berarti menempatkan seseorang pada keadaan malu karena pengharapannya telah menyesatkannya.  Pengharapan kita kepada status, jabatan, pengaruh dan kekayaan adalah pengharapan yang palsu, pengharapan yang tidak dapat membebaskan kita dari penghukuman kekal.

 

 

# Harianto Winata, M.A., M.Th. (Dosen Tetap STTPBB)